Donna Tambayong

The Place Where You Can Find The Real Me
Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? Mending #SebarkanBeritaBaik Yuk Sebagai Bentuk Upaya untuk Menjaga NKRI Tercinta Ini !!!

Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? Mending #SebarkanBeritaBaik Yuk Sebagai Bentuk Upaya untuk Menjaga NKRI Tercinta Ini !!!

Masih percaya berita hoax? Baca tulisan ini sampe habis  !!!

Sekarang, kita udah memasuki zaman serba canggih. Serba cepat. Serba ngga bisa diprediksi. Semuanya terjadi dan mengalir begitu cepat. Ngerasa ngga sih? Keadaan kayak gini dinamakan oleh sebagian orang dengan era VUCA atau kepanjangan dari Volality, Uncentainty, Complexity dan Ambiguity.

Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? | Donna Tambayong

Masih bingung sama pengertian dari masing-masing kata dari singkatan VUCA? Yuk simak penjelasan singkatnya. Volality itu merupakan sebuah proses perubahan di mana terjadinya perubahan yang sangat cepat dalam beberapa aspek kehidupan seperti sosial ekonomi dan politik. Sedangkan uncertainty artinya keadaan di mana kita sulit untuk mempredikasi sesuatu ataupun peristiwa yang saat ini sedang terjadi. Nah, pas banget kan kayak kondisi dunia saat ini?

Kalo complexity ? Nah complexity ini merupakan keadaan yang kompleks banget sampe-sampe banyak hal yang kayaknya sulit untuk diselesaikan. Terakhir, Ambiguity. Ambiguity diartikan sebagai sebuah keadaan di mana banyak hal yang terasa mengambang dan kejelasannya masih dipertanyakan.

Diliat dari pengertian masing-masing kata, itu kayak menggambarkan banget situasi dunia saat ini. Di mana terjadi banyak perubahan dari berbagai aspek. Perubahan dari berbagai aspek itu menimbulkan sebuah opini yang beragam sehingga membuat masyarakat jadi sulit memprediksi suatu hal. Kenapa? Karena semuanya terjadi begitu cepat dan ngga ketebak. Nah, karena perubahan yang sangat cepat itu, segala aspek yang berubah itu seakan ngambang kayak perasaanmu ke aku. EAAAA ~~~ Maksudnya saking banyak perubahan yang cepat dan ngga bisa diprediksi, hal-hal yang berubah itu jadi keliatan ngga jelas.

Banyak banget efek yang ditimbulkan dari era VUCA ini. Seperti yang dijelaskan di atas, karena terjadinya perubahan yang begitu cepat, ngga bisa diprediksi dan sulit dipertanyakan kejelasannya, ngga heran kalo saat ini banyak beredar berita-berita yang sulit dipercaya. Istilah kerennya sih disebut BERITA HOAKS atau dalam bahasa Inggrisnya disebut HOAX.

 

Apa sih HOAKS itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) HOAKS sebagai ajektiva artinya  tidak benar; bohong. Sedangnya HOAKS sebagai nomina diartikan sebagai berita bohong.

Nah, bisa diliat. Sekarang ini berita hoax cepet banget menyebar. Apalagi didukung sama perkembangan teknologi yang canggih. Beda sama zaman dulu. Zaman dulu, kayak era di bawah tahun 2000an, penggunaan teknologi ataupun akses internet masih sangat terbatas. Ngga semua orang bisa menggunakan teknologi canggih dan mengakses internet dengan mudah.

Zaman sekarang? Jangan ditanya? Anak yang baru brojol aja langsung senyum kalo diajak selfie. Kalo di zaman gue dulu, anak-anak kecil masih mainin permainan tradisional. Zaman sekarang, semua anak kecil kayak udah kecanduan sama-gadget. Bahkan ngga cuma anak-anak aja. Orang dewasa pun kayak ngga bisa lepas dari gadget dan internet.

Perkembangan zaman yang canggih itupun membuat media sosial jadi naik daun. Interaksi sama orang bisa dilakukan melalui media sosial tanpa harus ketemu. Banyak media sosial yang bermunculan di awal 2000an. Diawali dengan Friendster, MySpace, Twitter, Facebook, Path, Instagram dan masih banyak lagi.

Bahkan menurut keterangan Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kemenkominfo) dari total 262 juta jiwa, ada sebanyak 143,26 juta jiwa yang diperkirakan udah menggunakan internet. Kemenkominfo menyatakan bahwa penetrasi ini naik dari tahun 2016, yang pada saat itu jumlah pengguna internet berada di angka 132, 7 juta jiwa (red : kominfo.go.id)

Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? | Donna Tambayong
Gambar : Milik Pribadi

 

Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? | Donna Tambayong
Gambar : Milik Pribadi

Dari sekian banyak pengguna internet, diperkirakan 48 persen masyarakat udah menggunakan media sosial. Nah, ada data menarik nih. Seperti yang ditulis sama The Next Web (24/4/2018) , Indonesia sendiri  masuk dalam daftar 5 negara pengguna media sosial terbesar.

 

Dari fakta-fakta di atas yang memberikan info seputar  penggunaan sosial media khususnya internet, ngga heran kan kalo di zaman sekarang informasi begitu cepat naik dan menyebar di masyarakat.

Nah, ternyata peningkatan penggunaan media sosial ini juga berdampak sama makin meningkatnya penyebaran berita hoax di masyarakat. Era VUCA dan perkembangan internet seperti berjalan beriringan. Dengan adanya era VUCA, informasi seakan tidak bisa dikontrol. Semua informasi dari segala aspek sangat cepat menyebar walaupun informasi yang diterima belum jelas, belum pasti kebenarannya.

Itu disebabkan karena terlalu cepat informasi yang masuk, kurangnya filter informasi, masyarakat menelan mentah-mentah berita hoax yang belum jelas. Dampak era VUCA sangat terasa pada masyarakat. Walaupun mungkin banyak masyarakat yang tak sadar bahwa kita-kita yang hidup saat ini menjadi korban dari era VUCA  itu sendiri.

Penyebaran berita hoax seakan sulit untuk difilter. Bahkan, menurut Niken Widiastuti yang merupakan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Kominfo (13/3/2018) menjelaskan bahwa angka penyebaran berita hoax mencapai 800 ribu konten per tahun. Angka yang sangat fantastis. Ngga heran kalo masyarakat sekarang cepat banget menerima berita-berita tentang apapun yang belum pasti kebenarannya. Angka penyebaran berita hoax aja mencapai angka 800 ribu. Agak ngeri ya.

Berita hoax sekecil apapun bisa berdampak besar kalo dibiarin terus menerus. Berita hoax kayak udah jadi konsumsi sehari-hari buat masyarakat. Era VUCA cukup menyumbang dampak yang sangat besar dalam penyebaran berita hoax.

Bad news is a good news. Kayaknya istilah itu cocok banget sama kondisi pemberitaan saat ini. Kayak ngga seru gitu kalo ngga nerima berita jelek. Buat yang kuliah komunikasi, pasti ngga asing sama istilah itu. Bad news is a good news yang artinya berita jelek merupakan berita baik. Masyarakat seakan dibentuk supaya terbiasa menerima bad news. Berita-berita berkualitas jadi ngga menarik lagi buat masyarakat.

Hari Gini Masih Percaya Berita Hoax ? | Donna Tambayong

Bad news semacam berita hoax tuh kayak jadi senjata buat memecah belah masyarakat. Entah atas dasar apa bad news ataupun berita hoax itu disebarkan. Yang jelas, kita sebagai masyarakat yang ikut menggunakan media sosial juga cukup sulit untuk menghentikan penyebaran berita hoax. Mengingat penyebaran berita hoax cepet banget melebihi kecepatan cahaya. Lebaynya sih gitu.

Media sosial itu kan harusnya dipake buat bersosialisasi dan berinteraksi untuk hal-hal yang positif. Nah, sayangnya nih ya. Ada beberapa pihak yang membuat media sosial itu menjadi sebuah wadah untuk menyebarkan berita hoax.

Kebayang ngga sih, gimana kalo berita hoax dibiarkan begitu aja. Coba liat sekarang, banyak orang yang ada akhirnya ribut ngga jelas cuma gara-gara berita hoax. Yang padahal, belum tentu jelas kebenarannya. Kok ya, seneng banget sih ribut gara-gara berita hoax. Bahkan gara-gara berita hoax, kelompok yang satu sama kelompok lainnya saling bentrok. Negara tercinta dirusak sama konten-konten hoax yang ngga jelas dan ngga bisa dipertanggungjawabkan.

Berita hoax itu bahaya banget buat perkembangan generasi zaman sekarang. Makanya, beberapa pihak dengan sukarela mengajak masyarakat khususnya anak muda untuk lebih cerdas menggunakan media sosial dan lebih meneliti kembali berita-berita yang ada di media sosial.

Salah satu pihak yang mendukung agar berita hoax tidak ditelan mentah-mentah adalah Kepolisian Republik Indonesia. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dari Kepolisian cukup tanggap untuk menanggulangi penyebaran berita hoax yang terjadi belakangan ini. Mereka membuat campaign #SebarkanBeritaBaik untuk meminimalisir penyebaran berita hoax yang ada di media sosial.

Campaign yang sangat baik dalam upaya mencegah penyebaran berita hoax. Konten-konten dari berita hoax memang rasanya untuk saat ini masih sulit diberantas. Tapi, kita bisa meminimalisir itu semua dengan sama-sama sadar bahwa berita hoax akan merusak apapun yang ada di negara ini. Kalo masih mau tinggal di Indonesia, dan masih berharap Indonesia akan terus ada sampe anak cucu cicit kita dan entah sampai berapa ratus tahun lamanya, please ikut #SebarkanBeritaBaik. Jangan menelan informasi mentah-mentah. Jangan mudah tersulut.

Informasi yang disebarkan tanpa adanya sumber yang jelas ngga akan membawa manfaat apa-apa buat diri kita sendiri ataupun orang lain. Penyebaran berita hoax cuma bikin negara terpecah belah. Kalo udah dalam kondisi pecah belah, gampang banget buat oknum-oknum lain untuk berbuat semaunya di Indonesia.

Ngga mau kan tanah kelahiran yang sudah susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan kita di zaman perang ancur gitu aja cuma gara-gara berita hoax yang kita sebarkan terus menerus?

Apapun beritanya, baik atau buruk, suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, please sikapi dengan bijak. Perbedaan pendapat tentang berita-berita yang muncul sekarang memang udah jadi hal wajar. Tugas kita adalah belajar untuk menjadi orang bijak dan #HormatiPerbedaan terhadap apapun yang ada di lingkungan kita.

Jangan biarkan hal sekecil apapun mengganggu stabilitas negara kita tercinta ini. Seperti slogan yang sering diteriakan banyak orang, NKRI memang harga mati. Apapun bentuk kejahatan yang pada akhirnya akan merusak negara ini, kami anak muda akan berjuang demi kelangsungan NKRI.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada pesan yang jlebb banget. Yang kayaknya harus dibaca oleh oknum-oknum penyebar berita hoax.

Kalimat ini ada di lirik lagu DEEN ASSALAM yang baru-baru ini menjadi trending topic di Youtube.

Begini  liriknya :

Ab tahayat wab salaam

An syaru wah lal kalam

Zay nu dini yakh te rabb

Ab ma habbat wab ta sam

Artinya :

Melalui perilaku mulia dan damai

Sebarkanlah ucapan yang manis

Hiasilah dunia dengan sikap hormat

Dengan cinta dan senyuman

Sekian tulisan panjang ini. Semoga tulisan ini bisa menambah bank konten positif untuk dicerna sama masyarakat luas. Semoga kita jauh lebih bijak untuk memercayai kebenaran dari berita yang tersebar luas.

Dan semoga masyarakat luas khususnya anak-anak muda di Indonesia sadar, bahwa Indonesia ke depan ada di tangan kita. Kalo masih cinta dan masih pengen Indonesia ada, please bantu pemerintah untuk selalu #SebarkanBeritaBaik.

Sekecil apapun upaya kita, akan sangat berarti buat Indonesia yang lagi darurat hoax.

 

Regards,

 

Donna Veyana Tambayong

4 comments found

  1. “Studi yang dilakukan Universitas Stanford pada tahun 2016 menunjukkan bahwa kalangan terdidik pun mudah ditipu oleh berita bohong (fake news). Sebanyak 80 persen murid sekolah menengah atas yang menjadi responden survei di AS itu ternyata tak bisa membedakan mana berita bohong dan mana yang benar. Akses ke data dan informasi dari sumber resmi di kalangan pemerintah membuka potensi produksi berita bohong”. Saya sepakat dg RG “Pembuat Hoax Terbaik adalah Penguasa”, mereka punya inteligen, media partner, dsb. Sebagai contoh saat jumlah orang yg hadir saat pelantikan trumph menurut jubir dan sekretaris persnya yg hadir terbanyak dr presiden lain, faktanya tdk lebih banyak dr saat obama. Adalagi skandal pentagon pers soal keadaan perang vietnam yg gk sesuai fakta.
    Indonesia, pemerintah bisa hoax? Kenapa tdk? Kemungkinan selalu ada apalagi ini demokrasi, mereka katakan hoax dan atau mungkin “fakta alternatif” krn banyaknya media2 di indonesia jd partner politik bermain politik sehingga kehilangan independensinya. Mungkin bisa dikasih contoh “fakta alternatif” mengklaim bahwa yg diperlihatkan suatu pembangunan sukses berdiri bandara, pabrik dsb tp yg tdk kita tau pengorbanan hancurnya lahan2 produktif, masyarakat2, dsb tsb untuk menghasilkan pembangunan.
    Chomsky menyarankan agar publik mengkonsumsi informasi alternatif di luar media arus utama yang menjadi mitra propaganda politik pemerintah. Saran lain adalah, turun ke lapangan, termasuk ke komunitas untuk mengetahui situasi sebenarnya.

    Menteri propaganda nazi, Goebbels bersabda. “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!” Sedangkan kebohongan sempurna, kata Goebbels, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja. Ngeri? Banget… Sekarang zaman fitnah, Yang tersulit adalah yg berjalan ditengah, yg gk terpengaruh dg klaim kiri-kanan yg mengklaim diri mereka paling benar, paling tidak hoax yg ternyata kalau ditelusuri lebih dalam tdk jauh beda, siapa tau?

    1. Mantappppppp 👍

      Love this part :
      “Yang tersulit adalah yg berjalan di tengah, yg gk terpengaruh dg klaim kiri-kanan yg mengklaim diri mereka paling benar”

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.